Bertarung luka

Engkau halal buatku namun bertahan membersaimu serasa luka yang akan mengabadi. tapi menurutku luka kali ini telah menjadi keharusan.

Orang tuamu boleh membenciku, orang tuamu boleh tak menginginkanku dan menghargai tentang penyatuan kita. Dan kau boleh bersalah padaku karena tidak memberitahukan padaku bahwa kau memperistri diriku diluar restu orang tuamu.

Dulu aku sempat berpikir untuk pergi dan berlepas diri darimu karena menuruku kau telah memih aku dengan penghianatan. Aku marah padamu karena kau telah membawa aku ketempat yang menyeramkan ini. Kau tau ibumu membenciku dan kau tetap membawa aku kesini, kau tau ibu tak mengharapkan hadirku tapi kau membawa aku untuknya, dan yang paling menyakitkan adalah karena engkau tidak memberitahukan kepaku, setidaknya aku punya persiapan untuk menepis luka-luka yang akan hadir, setidaknya aku paham apa yang menyebabkan aku diabaikan, setidaknya aku tau mengapa aku dibenci, dan tidak kebingungan sendiri. tapi kebaikan dan permintaan maafmu sudah tidak bisa kuabaikan.

Kau yang selalu baik dan tidak bosan memita maaf membuatku luluh, aku hanya orang bisa, aku sadar tak harus membuatmu mengemis maaf dariku. Terimakasih kau telah berhasil menguatkanku.

Sekarang andai sekalipun ibumu mengusirku aku akan tetap membersamaimu. Bukan karena harga diri telah habis tapi aku telah menyadari kewajibanku untuk berbakti dan selain itu akupun tak inginkan anakku kebingingan kelak mencari sosok ayahnya.

Sekarang aku telah menghapus pikirku untuk meninggalkanmu aku akan membersamaimu apapun yang terjadi tak ingin menyesal membuat diriku akan merindukan sosokmu. tak peduli ibumu setuju atau tidak, aku tak lagi peduli apakah ibumu bisa menerima dan menghargai aku. Yang aku tau sekarang saatnya aku berusaha menjadi menantu yang baik untuknya, aku akan berusaha berbuat baik seta bersabar hingga memenangkan hatinya seperti yang telah engkau lakukan padaku. Aku bersyukur karena yang harus kumenangkan hanya 1, hati ibumu, bukan hatimu. sebab banyak orang yang masih harus berjuang untuk mendapatkan hati suaminya. Tapi aku , walau tidak sedang merajai hatimu tapi setidaknya aku telah menadi mentri disana.

Saat ini mungkin aku akan melemah jika engkau yang tak lagi menginginkanku. Tapi selama bukan maka selama itu pula aku harus bersabar bertarung dengan luka yang ada hingga memnangkan segalanya. Yang kukejar selain hati ibumu ada yang lebih prioritas untukku yaitu syurganya.

Iklan

Saatnya kau pergi

Kau boleh pergi

Kau boleh pernah ada dihatiku dan aku takkan sesalkan itu.

Aku tidak pernah berusaha menyimpan namamu disini. tapi kau yang melukis namamu sendiri, maka akupun takkan menghapusnya biarlah engkau sendiri yang menghapusnya.

Orang yang pernah masuk dihatiku takkan kupaksa pergi. biarkanlah ia menjadi kenangan, biarkanlah menjadi hiburan, hingga waktu yang ditetapkan olehnya usai disini.

yang pernah singgah tentu bukan yang pernah atau akan membuat luka tapi hanya dia yang pernah dan akan membuat bahagia. Sebab yang melukai dia hanya akan lewat, takkan pernah singgah, bahkan menoleh sekalipun tak kuijinkan.

Sandarkan luka.

Air mata ini mungkin tak lagi berarti, tapi biarlah untuk menenangkanku. Pergimu bukan hal yang kusesali tapi merasa kehilanganmu adalah hal yang pasti, aku yang memintamu pergi dengan isyarat tapi bukan memintamu menghilang. Aku berharap engkau pergi dan kembali dengan jalur yang benar, tapi sungguh kau tak paham itu, meski sebenarnya akupun memang tidak memberimu isyarat lebih dari sekedar pergi.

Aku takkan sedihkan lagi tentangmu, sebab aku sudah tau bahwa engkau tak tau cara membersamaiku. Kau tak tau jalur untuk menemukanku kembali. Biarlah kehilanganmu yang penting hidahnya tetap membersamai, cukuplah aku tersenyum karena masih bisa merasakan berjalan diatas jalur yang benar, tak peduli betapa ambruknya hati saat memaksa melepaskanmu, tak peduli betapa dalam namamu tertuliskan disini, berapa banyak waktuku terbuang untuk melupakanmu.

Hidupku separuh kau bawa pergi dan semuanya harus kulepaskan. Biarlah, yang pasti aku tak menginginkan hadirmu kembali dengan jalur yang sama.

Biarlah kau menghilang jika bersamu bukanlah dalam bentuk kebaikan. Biarlah disini untuk menghapus namamu cukup sulit dan menguras waktu. Jika pilihan bersama takkan pernah berbuah kebaikan. Memilih bersamamu adalah bentuk penentanganku padanya. Pada dia yang justru takkan pernah abaikanku, yang takkan pernah acuhkanku, yang takkan pernah terlantarkan dan tinggalkanku dalam keadaan apapun.

Kecewa, dan luka ini hanya akan sesaat sebab memutuskan berada diatas jalurnya pasti ada kebaikan dan kemenangan yang menanti.

Luka ini akan segera menipis, perlahan akan mengering dan sembuh total sebab ada dia tempat sandaran terbaik, ada dia tempat sandaran oleh hati yang sedang ambruk. seambruk apapun. “Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang dicintainya karena Allah. Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik”.

Penghianatan 2

Mungkin ini hal sederhana dan kecil menurutmu. Tapi terlalu membekas buatku.

Aku tidak tau apa alasanmu melakukannya, yang kutau kau telah berhasil menaruhkan luka dikedalaman hati.

kau sepertinya begitu mudahnya memulai permainan ini, semoga engkau tak pernah merasa kesulitan diakhir.

Aku tidak akan salahkanmu.
Aku yang bodoh percaya padamu, dan berharap Allah pertemukanku dengan jodoh yang baik melalui dirimu.

Orang yang sedang kau tawarkan padaku ternyata Orang yang sama dengan yang engkau tarwarkan pada adikku ?

Tidakkah engkau berpikir betapa menyakitkan hal ini ? Kurasa kau telah berhianat. Maukah kau mempertanggugjawabkan hal ini jika aku menuntutmu ?

Kau telah coba berhianat pada kami hanya karena misi laki-laki biasa.

Kau tau, Saat membaca biodatanya yang tertulis jelas kata “CANTIK” pada bahagian pertama, aku tak berani menukarkan data padanya, tapi karena penghargaan yang begitu besar padamu kemudian aku mencoba untuk tetap melakukannya.

Kau tau, Betapa berat melakukannya ? aku melakukan segalanya dengan istiqkharah sementara kau mengnggapnya sebagai permainan.

Kau tidak salah. Mencarikan yang cantik untuknya adalah hakmu.

Tapi mengapa harus dia ? Mengapa harus adikku sendiri ? Aku tak menginginkan persaingan dengannya. Bukan karena takut kalah tapi aku amat takut menyakitinya. Aku menyayanginya, bagaimana jika dia tau ?

Menyampaikan tentangnya kepadamu adalah niat baikku agar dia dipermudah tentang jodohnya. Tentu saja bukan sebagai rambu-rambu agar dipersaingkan dengannya. Tapi kau justru telah mencoba berhianat.

Aku tidak tidak akan salahkanmu, Mungkin ada dosa yang harus kubayar dengan sakitnya rasa penghianatan.

Asal kamu tau semua kulakukan, bukan karena aku begitu yakin, tapi karena mencoba menempuh dan percaya pada cara atau jalur yang dianggap syar’i dan diridhoi Allah.

Tapi diatas jalur ini ternyata aku masih harus menerima penghianatan itu sebagaimana orang-orang yang menerima penghianatan saat menempu cara diluar jalurnya.

Jujur aku berani berjalan diatas sunnah bukan untuk sebuah penghianatan ini. Kuakui aku mungkin salah sebab dari awal aku ragu tapi tetap mencoba demi belajar menghargai proses jalannya sebuah sunnah.

Mungkin harusnya aku tidak melakukan pertukaran biodata saat itu, harusnya aku menahan diri dari mencoba menahan ego demi menghargai orang yang kupercaya.

Sejak awal aku ragu, tapi yang kupahami, bisa jadi yang baik menurutku belum pasti yang baik menurut Allah. Lalu kucoba melangkah dengan bismillah dan kehati-hatian, aku tidak menghawatirkan saat ditolak kelak karena tampilan yang pas-pasan.

Menuruku atas Jalur yang syar’i tak mengapa mencoba bertarung, adapun jika harus terlempar karena tampilan yang kurang menawan, tak masalah buatku, akupun telah sangat-sangat yakin, bahwa yang menolak aku karena tidak merasa cocok dengan kecantikan yang minimalis, jelaslah dia bukan yang terbaik buatku, dan tentu aku akan berterima kasih jika Allah tidak menjodohnnya denganku. Sebab kelak entah akan dibuang kemana diriku, jika priotas cantik tak dia temukan dalam diriku, tempat sampah ? belum tentu siap menampungku.

Apa yang akan ditakutkan ? Tentu saja bukan penolakan, tapi justru kekecewaan yang lebih dahsyat dari yang kupersiapkan.

Melalui niat suci ini, mendadak yakin meski tidak berani, untuk sebuah hujjah dihadapan Allah kelak bahwah aku tidak sedang membenci jalur yang syar’i untuk menemukan jodoh yang baik. Dan sebagai bentuk pembuktian bahwa aku tidak sedang membenci atau mengingkari pernikahan, seperti yang orang-orang sering sangkakan.

Somoga dengan usaha menepuh jalurnya, karenanya, Insya Allah itu telah cukup menjadi hujjah kelak, tak mengapa, biarlah ! aku hanya berharap dalam proses ini tidak akan ada lagi kesulitan setelah kesulitan ini.

Antara aku dan dia insyaAllah tidak akan ada ikatan pernikahan. Andaipun jika dia adalah yang amat istimewa, insya Allah aku tidak menyesal memperuntukkannya untuk perempuan yang lebih baik dan lebih sabar dariku.

Akan kuakhiri bagaimanapun caranya, adapun tentang adikku walau aku sangat takutkan tentang lukanya tapi aku cukup tau bagaimana cara terbaik untuk memahamkannya.

Jangan khawatir insya Allah tidak akan ada yang menututmu. Kecewa ini biarkan kami bawa berdua. Aku juga takkan menyudutkanmu sebab dengan menyudutkanmu takkan membuat aku lebih mulia.

Penghianatan kecil

Semoga dia tidak pernah tau bahwa ikhwah yang sedang ditawarkan padanya adalah ikhwa yang sama dengan yang ditawarkan padaku.

Aku ingin mencoba mengalah tapi belum tau cara yang pas untuk mengakhiri, entah sejauh mana takdir akan mempermainkan kami.

kau yang memulai permainan ini, tidak adakah niat untuk mengakhirinya. Sebenarnya aku mulai curiga saat dia menyebut asal dan profesi ikhwa yang dimaksud,jip tapi mencoba berprasangka baik.

Kecurigaan menjadi-jadi saat ia menyebut kriteria sang ikhwa, aku yang tidak terbiasanya begitu keponya mulai menyakan nama dan bahkan meminta untuk diperlihatkan biodatanya dengan nada yang sangat semangat, karena dia sahabatku jelas dia tak keberatan.

Wahai ikhwa sebenarnya engkau tidak salah. Berta’aruf dengan seribu akhwatpun tak salah bagimu bahkan menikahi dua akhwat sampai empat sekaligus itu tidak haram buatmu, tapi caramu berhianat cukup ampuh untuk mengabrukkan hati.

Aku tidak akan salahkanmu sebab segala jalannya hanyalah atas dasar idzinnya.

Mungkin ada dosa yang harus terbayar olehku hingga aku dituntut Allah untuk membayarnya dengan cara ini.

Andai saja bukan dia ? Sebab aku tak menyukai persaingan dengannya. Bukan karena takut kalah tapi justru takut menang dan menyakitinya. Aku amat menyayanginya, maka untuk menjadi saingannya adalah penghianatan menurutku.

Kupikir kau telah berhianat. Kurasa kau telah mencoba menabur subhat penghianatan pada kami.

Jujur aku sendiri tidak terlalu tertarik padamu. Karena aku tau dan sadar sejak awal, bahwa aku bukan keriteriamu dan kebenaran kauapun bukanlah kriteriaku.

Semua kulakukan, bukan karena aku begitu yakin, tapi nekat menempuh jalan mencari jodoh selama caranya diatas jalur yang syar’i. Sebab yang kupahami, yang terbaik menurutku belum pasti yang terbaik menurut Allah.

Semua kujalankan bukan untuk menang bahkan aku telah mempersiapkan diri untuk kalah, aku tak ingin ada rasa kecewa, dan tak ingin ada yang tersakiti.

Sekarang aku ingin tau sejauh mana engkau akan mencoba bermain-bermain.

Tentunya membutuhkan pemikiran panjang untuk mengumpulkan kekuatan dan tekad untuk melawan ego.

Jalurnya masih syar’i tak mengapa mencoba bertarung, adapun jika harus terlempar tak masalah toh sudah ada persiapan kalah dari awal.

Apa yang akan ditakutkan ? Tentu saja bukan takut menjomblo hingga mati, yang ada hanyalah bagaimana jika aku tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang menjadi keputusan dari ego yang ada.

Aku maju bukan kerena berani tapi agar aku punya hujjah dihadapan Allah bahwah aku tidak sedang membenci atau mengingkari pernikahan. Dengan menepuh jalurnya. Insya Allah itu telah cukup menjadi hujjahku kelak.

Meski begitu agung niatku bertaaruf denganmu dari awal. Tapi tidak akan ada pernikahan diantara kita terkecuali jika ada takdir jodoh diluar ikhtiar kita. Aku akan mengakhirinya entah bagaimanapun caranya, semuanya telas jelas. Ingin memborkar kedokmu padanya namun tak tega merusak keindahan bunga-bunga yang tercermin pada wajah yang sedang tumbuh pada hatinya.

Engkau serasa memuakkan, selain tak menginginkan engkau berjodoh denganku tentu saja akupun berharap engkau tak bejodoh dengannya. Namun diri ini tak kuasa menyangkal dia untukmu, sebenarnya mudah saja bagiku tapi rasa tak tega mengalahkanku. Bunga-bunga bahagia yang terpancar pada senyumnya membuatku hanya mampu berdiam diri menyaksikan curhatan panjangnya, walau tak menginginkan penyatuanmu dengannya, namun jika kau adalah jodoh yang telah disiapkan untuknya, hanya do’a yang dapat kuucapkan untuk kalian, semoga engkau bahagia bersamanya. Jangan menyakitinya, jangan sampai kau menghilangkan senyumnya atau memberi kekecewaan dengan melukai persaannya.

Jangan buat aku menyesal karena tak menghalangi penyatuan kalian, jangan paksa aku untuk terluka menyaksikan tingkahmu kedua kalinya, setelah aku memaksakan diri, mengijinkan penyatuanmu dengannya.

Pagi yang istimewa

Pagi yang istimewa, mungkin hanya menurutku saja, entahlah, beliau sengaja menyinggung halus atau memang kebiasaan menolongnya yang begitu luar biasa, yang jelas sifat lembutnya membuat hati ini tertampar begitu dalamnya.

Ukhuwah diantara kita memang sudah terikat begitu erat, semoga tak direnggangkan oleh sesuatu. Ini bukan ketakutan hanya do’a atau prasangka baik saja. Mungkin hanya aku yang merasakannya, kebaikan-kabaikannya sudah tak bisa tertampung oleh buku catatan harianku. Keunikan-keunikan dengan gaya khasnya sering membuat hati tertampar malu karenanya. Entahlah mungkin beliau sengaja menjelaskan padaku dengan caranya, bahwa betapa penting dan genting hal ini untuk dipahami dan diperhatikan.

Rupanya aku harus belajar lebih peka padanya. Ah ada juga bagusnya aku pandai beracting hingga tak terbaca wajah yang mungkin sedang memerah karena menahan malu. Walau sempat terperangah dan menatapnya dengan tatapan tajam yang seolah ingin membaca maksudnya. tapi, yah dibawa santai aja, syukur-syukur beliau tak menyadarinya.

Yang pasti apapun tujuan dan alasanya, menurutku, itu adalah pendidikan yang amat bermakna.

Kali ini, lagi dan lagi aku datang terlambat, ada banyak alasan hingga tak berani mengutarakannya. Tentu saja faktor utamanya sudah tertebak, yah.. karena tidak pandai mengatur waktu. Ada alasan lain yang sengaja tidak kuutarakan, karena aku tau, sebenarnya bukan alasanku yang paling beliau dambakan tapi justru perubahan yang belum kunjung kukabulkan dan aku ingin mulai mencoba mengurangi untuk beralasan banyak. Jelas segala sesuatu pasti memiliki alasannya masing-masing, dan tentu saja setiap alasan membuat kita ingin dimengerti, aku tau bahwa dengan mengutarakan yang sebenarnya bisa saja dimaklum dan bisa juga tidak, tapi harus kuakui bahwa dengan terus-menerus memuat alasan mungkin aku akan lebih susah mengubah diri. Ingin kupastikan bahwa alasan yang terpakai hanya memang yang benar-benar genting meskipun aku juga tau bahwa tak menyampaikan sama skali, itu juga adalah kesalahan. Namun dalam menentukan pilihan yang bijak memang kadang diperhadapkan dengan kondisi yang sedikit sulit.

Yah semoga Allah memudahkan, agar tak selalu mengulangi kesalahan yang sama.

Keterlambatanku pagi ini ditambah dengan tugas yang belum sempat diselesaikan membuatku harus duduk cantik dikantor kepsek, sebenarnya enteng saja, sebab duduk dikantor kepsek sudah biasa bagiku, dan jujur pertanyaan dan pernyataan tak membuatku begitu merasa bersalah sebab lagi dan lagi bagiku itu adalah biasa, tapi justru tingkah uniknya yang berhasil membuaku terjatuh, dan tersungkur pada titik nol. Ada rasa bersalah, ada rasa malu dan penyesalan. Mengapa harus beliau yang menyarankanku menggunakan laptop lain ?
Dan mengapa pula aku tidak bersegerah bergegas untuk mencari dan mengambil sendiri ? Mengapa harus beliau yang mengambilkannya ? Sungguhkah itu tak pernah terpikirkan olehku ? Bukan begitu, hanya saja ulah cuek yang sedang mendewa membuatku mampu acuhkan segalanya.

Aku serasa menjadi ratu baginya, mungkin memang sudah saatnya aku belajar lebih peka. Siapalah aku dibanding beliau. ?

Semoga beliau dapat melapangkan segala lalaiku, dan semoga Allah juga sudi mengampuniku.

Hati yang ambruk tak harus berakhir dengan kata luka.

Jika dia datang mengobrak abrik rasa, memaksa menuliskan namanya dikedalam hatimu kemudian pergi tampa jejak.

jika dia datang mengambrukkan hati yang sedang tertata indah, penuh bahagia, kemudian beranjak pergi seakan tanpa beban.

Sebenarnya ingin mengejar namun sayap-sayap yang ada telah terpatahkan olehnya, energi yang pernah ada sudah tak tersisakan.

Haruskah memaksakan diri walau dengan merangkak ?
Jika itu dirimu apa yang akan kamu lakukan ?
Menurutmu apakah dia jahat ? Akankah ia memperoleh maafmu ?

Wahai fulanah tidak ada jawaban untukmu selain memintamu menerima kenyataan yang ada. Takdirmu tidak akan terjadi selain atas ijinnya. jika kita adalah hamba yang mengutamakan dia diatas segalanya, berarti hati dituntut berlapang akan segala ketetapannya.

Ada sesuatu yang indah dibalik takdirnya, tugas anda adalah mengelolah hati dan dirimu untuk tetap setia diatas jalurnya.