Hati yang rapuh

Aku adalah seorang wanita yang serba minimalal, telah jatuh hati pada sosok yang menurutku sempurnah, (mengagumkan). Adakah fakta ini aneh ?

Mungkin aku terlihat sangat menyedihkan, tapi jatuh cinta padanya tidak pernah menjadi pilihan, cinta itu hadir dan tumbuh tanpa bumbu, sementara aku tak kuasa untuk menyangkalnya.

Aku bingung harus berbuat apa, sebab semakin hari semakin berutumbuh saja dengan sendirinya, dan aku tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikannya, aku serasa ingin menghilang, jujur aku tersiksa.

Kenapa harus kepada dia aku jatuh cinta ? Sementara banyak orang lain disekitarku. Kenapa harus dia ? yang justru tak pernah memberiku perhatian sama sekali. Jangankan perhatian, menatap dan berbicara dengankupun enggan.

Mungkin aku bodoh telah membiarkan hatiku jatuh pada seseorang yang tak pasti akan menghalalkanku.

Mengharapkannya begitu pasti, mencintainya begitu nyata, sementara jalan-jalan yang kususuri untuk meraihnya seakan tumpul.

Aku sadar, aku yang salah karena telah membiarkan hati ini bebas menyapa tanpa pengawasan yang cukup.

Aku yang salah karena membiarkan mata ini menatap hal yang tak berlabel halal. Aku salah karena tak memiliki jaminan mampu mennjaga hati, tapi berani mengambil pekerjaan yang bercampur tanpa hijab.

Sekarang aku harus menanggung resiko ini sendiri, Haruskah kusampaikan rasa ini padanya ? Kemudian memelas untuk dihalalkan olehnya ? Aku malu, dimana rasa ini harus kutitipkan ?
Atau haruskah aku pergi menghilang darinya ?

Batin ini cukup tersiksa, dada ini cukup sesak, jika secara tak sengaja harus melamunkan tentangnya, aku ingin mengingkarinya tapi waktu seakan memaksa.

Apalah daya, yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan berusaha untuk mengalihkannya. Tapi jujur saja itu sulit. Sangat sulit.

Iklan

Biarkan dia yang merajai hatimu

Bangkitlah wahai pemilik jiwa yang keruh, pemilik hati yang rapuh. Kembalilah pada istigfar dan sujud-sujud panjangmu.

Kuatkan hati, bulatkan tekad, yakinkan diri, bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Jangan khawatirkan apapun. Percayalah semua akan indah pada takdirnya.

Jangan pernah kalah oleh waktu, termasuk jika waktu sedang berniat untuk menguji kesungguhan imanmu.

Setiap badai akan berlalu, mudah baginya mebolak-balikkan sang hati.

Temukan Allah sebagai tempat sandaran akan segala susahmu, jadikan dia tempat pertama untuk berbagimu. Setiap solusi ada padanya. Mintalah pada Allah apapun hajat anda. Tidak ada sesuatu yang sulit baginya.

Setialah padanya ! Bacalah kalamnya dengan hati beningmu, telusurilah lembaran-lembaran suratnya dengan yakinmu. Terangi hatimu dengan hidayahnya.

Allah tidak akan menghianatimu, Allah tidak akan terlantarkanmu, serahkan segala urusanmu padanya, engkau akan lelah dan kalah jika ingin selesaikan segalanya sendiri.

Engkau tidak akan temukan apa-apa selain kekecewaan jika mencari kebahagian diluar jalurnya. Sebab inti dari kebahagiaan ada bersamanya.

Mengakhiri kebodohan

Menunggumu adalah hal yang melelahkan, telah kubulatkan tekad dan kuputuskan untuk mengakhiri penantian, aku tau itu terlalu bodoh, kau bebas pergi kemana saja sementara aku harus terpenjara dalam penantian, sungguh diluar jalur, andaipun kelak kau akan kembali atau tidak sama sekali. Sudah tak menjadi masalah buatku, sebab sekarang aku sudah tidak sedang menunggumu.

Kali ini, semoga benar-benar berhasil melepasmu, mengeluarkanmu dari mimpi, menghapusmu dari ingatan membuangmu dari bayangan. Sebab mengenangmu adalah penyiksaan batin.

Pergilah..
Aku tak menyesal pernah menantimu, aku tak menyesal pernah jatu hati padamu, dan aku tidak menyesal pernah merindukanmu. Sebab aku telah memperoleh banyak hikmah dari semuanya.

Terimakasih karena telah membuatku belajar banyak darimu.

Belajar untuk ikhlas, belajar untuk melepas dan melupakan, kemudian belajar sabar nan lapang.

Pagi yang istimewa

Usaha tak pernah menghianati hasil, meski terlihat nihil namun atas kemahamurahan Allah membuat segalanya selalu sempurnah.
Mungkin itu hanya menurutku saja.

Entahlah, akupun tidak tau itu adalah jawaban atas do’a yang tak sempat kusebut dengan begitu detailnya. Yah
Aku hanya sedang berprasangka kalau itu adalah keajaiban doa.

Terucap syukur pada Allah yang maha pemurah. Tidak ada yang istimewa dalam diri ini, tapi tetap saja Allah mencukupi dan memberi yang terbaik.

Menurutku pagi ini adalah pagi yang istimewa, entah memang beliau sengaja menyinggung halus ataukah memang kebiasaan menolongnya yang luar biasa, yang jelas sifat lembutnya membuat hati ini tertampar begitu dalamnya.

Ukhuwah diantara kita memang sudah terikat begitu erat, kebaikan-kabaikannya sudah tak bisa tertampung oleh buku catatan harianku. Keunikan-keunikan dengan gaya khasnya sering membuat hati tertampar malu karenanya. Entahlah mungkin beliau memang sengaja menjelaskan padaku dengan caranya, bahwa betapa penting dan genting hal ini untuk dipahami dan diperhatikan. Rupanya aku harus belajar lebih peka padanya.

Ada bagusnya aku pandai beracting hingga tak terbaca wajah yang mungkin sedang memerah karena menahan malu. Walau sempat terperangah dan menatapnya dengan tatapan tajam yang seolah ingin membaca maksudnya. tapi, yah dibawa santai aja, syukur-syukur beliau tak menyadarinya.

Yang pasti apapun tujuan dan alasanya, menurutku, itu adalah pendidikan yang amat bermakna.

Kali ini, lagi dan lagi aku datang terlambat, ada banyak alasan hingga tak berani mengutarakannya. Tentu saja faktor utamanya sudah tertebak, yah karena tidak pandai mengatur waktu. Ada alasan lain yang sengaja tidak kuutarakan karena aku tau, sebenarnya bukan alasanku yang paling beliau dambakan tapi justru perubahan yang belum kunjung kukabulkan dan aku ingin mulai mencoba mengurangi untuk beralasan banyak. Jelas segala sesuatu pasti memiliki alasannya masing-masing, Yang tentu saja setiap alasan membuat kita ingin dimengerti, aku tau bahwa dengan mengutarakan yang sebenarnya bisa saja dimaklum dan bisa juga tidak, tapi harus kuakui bahwa dengan terus-menerus memuat alasan mungkin aku akan lebih susah mengubah diri. Ingin kupastikan bahwa alasan yang terpakai hanya memang yang benar-benar genting meskipun aku juga tau bahwa tak menyampaikan sama skali, itu juga adalah kesalahan. Namun dalam menentukan pilihan yang bijak memang kadang diperhadapkan dengan kondisi yang sedikit sulit.

Yah semoga Allah memudahkan, agar tak selalu mengulangi kesalahan yang sama.

Keterlambatanku pagi ini membuatku harus duduk cantik dikantor kepsek, sebenarnya enteng saja sebab duduk dikantor kepsek sudah biasa bagiku, dan jujur pertanyaan dan pernyataan tak membuatku begitu merasa bersalah sebab lagi dan lagi bagiku itu adalah biasa, tapi justru tingkah uniknya yang berhasil membuaku terjatuh, tersungkur pada titik nol. Ada rasa bersalah, ada rasa malu dan penyesalan. Mengapa harus beliau yang menyarankanku menggunakan laptop lain ?
Dan mengapa pula aku tidak segerah bergegas untuk mencari dan mengambil sendiri ? Mengapa harus beliau yang mengambilkannya ? Sungguhkah itu tak pernah terpikiran olehku ? Bukan begitu, hanya saja ulah cuek yang sedang mendewa membuatku mampu acuhkan segalanya.

Aku serasa menjadi ratu baginya, mungkin memang sudah saatnya aku belajar lebih peka. Siapalah aku dibanding beliau. ?

Semoga beliau dapat melapangkan segala lalaiku, dan semoga Allah juga sudi mengampuniku.

Tentang rindu

Assalamu alaikum.
Bagaimana kabar ?
Aku alhamdulillah sehat dan tetap cantik he he.

Sekarang aku mau menulis nih bahasan seputar rindu.
Oya jarang-jarang lho aku angkat tentang rindu, tapi kalau tulisan aku bagus jangan lupa like oky.

*Rindu* Rindu adalah sebuah nama dari salah satu pemain sinetron yang berjudul “manusia harimau”. He he sorry canda aja.

*Ingin halalkanmu*

Buat kamu yang entah dimana, aku tidak tau cara keluar dari rasa rindu ini. karena aku sudah mulai kehabisan akal untuk menghubungimu, aku ingin bilang bahwa sangat merindukanmu, namun lidah ini seakan keluh saat ingin mengucapkannya, aku tidak tau apakah engkau juga sedang merindukan aku atau tidak, yang kutau kau dan namamu tidak ada selesainya menjadi pembahasan otak memenuhi ruang memori hingga hari ini.

aku selalu mencari cara agar bisa menyapamu, bahkan untuk sekedar mendengar suaramu. Tapi takut dianggap modus, ingin kupastikan bahwa setiap akan mendengar suaramu aku punya alasan yang mantap dan tak terlihat modus olehmu. Aku tidak mau ketahuan canggung meskipun sebenarnya aku sangat canggung. Kadang aku kecoplosan memujimu, namun segerah kuralat dan mengaku sedang bercanda, Aku tau engkau tidak akan percaya sekaligus takut kau akan marah kerena menganggapku telah mencoba bermain-main denganmu.

Aku sadar diriku kadang serasa pecundang. Jujur ada niat untuk halalakanmu tapi aku belum punya kesempatan, itu sebabnya keberanian menyampaikanpun selalu terhalang. Sebenarnya setiap yang aku ucapkan adalah keseriusan hanya saja belum saatnya menyampaikan dengan cara yang lebih jitu, sementara rindu yang membara kadang sulit kuarahkan dan tak bisa kusangkal.

Selain rindu akupun ingin memastikan bahwa belum ada orang lain yang datang mendahului aku, besar rasa takut kalau-kalau akan didahului oleh orang lain. Sudahlah jika kau tercipta untukku pasti usaha apapun yang dilakukan orang lain takkan sanggup menerobos takdir kita, yah begitu juga sebaliknya sih.

Sebagian orang bilang kalau lagi rindu harus makan coklat yang banyak. Aku mah gak mampan, yang ada dengan makan coklat yang banyak malah gemukan.

Ada juga yang bilang ketika sedang merindu bayangan orang yang sedang dirindu tetap lekat dalam ingatan senantiasa menyertai apapun aktivitas kita, katanya sih bagus karena menurutnya kadang tak terasa pekerjaan uda usai aja diluar alam bawa sadar.

Aku mah ragu, tapi jikalau itu benar, berarti aku sungguh sedang merindukanmu sebab itulah yang terjadi padaku saat ini. Bukan hanya mengingatmu dalam setiap aktivitasku bahkan kadang bayangmu mampu merampas dan menguras banyak waktu istirahatku. Sementara untuk menemuimu aku belum punya keberanian, jangankan menemuimu mendengar suaramupun aku harus memastiakan ada alasan kuat yang bisa meyakinkanmu bahwa yang akan kusampaikan adalah hal yang penting.

Entah aku bodoh, yang jelas rindu ini hadir diluar kendaliku. Aku ingin kau menungguku hingga kelak tiba waktunya untuk halalkanmu, walau aku tak pernah membuat janji denganmu. Aku tidak mungkin membuat janji sebab aku terlalu takut untuk menghianatimu. Aku tidak tau kelak akan mencarimu dimana sebab aku tak tau alamatmu, tapi tetap saja inginku halalkanmu begitu jelas dan serasa sangat meyakinkan. Percayalah aku akan datang tuk halalkanmu dengan caraku tampa harus mengganggumu.

Benar kata dilan rindu itu berat, sebab kini aku merasakan betapa berat menahan rindu itu padamu. Mencoba mengalihkan ingatanku tentangmu namun selalu bernilai nihil, ujun-ujunya tetap saja kamu dan gambar wajahmu yang muncul seakan memenuhi pelopak mata dan juga memori, selalu saja engkau dan lagi-lagi dirimu.

Kata orang-orang jika aku sedang merindumu berarti engkaupun sedang merindukanku. Entahlah, yang jelas jika hal itu benar, apa itu berarti engkupun menginginkanku ? aku sudah tak sabar ingin tanyakan hal itu padamu, namun aku masih harus mengulur waktu. Sebab untuk menghalalkanmu sungguh tidak mudah bagiku.

Dan akupun tak berani melawan syari’atnya dengan menyampaikan segala rasaku padamu sebelum ada ikatan yang halal. Aku tetap mencoba bersabar dan berharap pada yang maha tau tentang segala rasa ini agar segerah memudahkan jalan penyatuan kita dalam ikatan yang diridhoinya.

Jujur akan sangat menyedihkan jika aku tak bisa berbagi padamu, tapi aku yakin bukan tak bisa hanya belum bisa saja. Sejujurnya sangat tak sabar ingin mengutarakan semuanya. Aku hanya mencoba tunduk pada sariatnya sepanjang yang kubisa. Walaupun demikian aku masih saja kadang ceroboh dalam mengatasi rasa ini padamu.

Wahai engaku, kau harus setia menungguku, aku akan datang menghalalkanmu, aku akan segerah datang jika yang maha tau isi hati mengijinkan dengan cara memudahkan jalan-jalanku. Sekarang aku sedang berjuang, dengan mengarahkan segala sanggupku.

Kasih sayang yang tulus tak harus terdeteksi oleh yang dicinta.

Aku belum menulis tentang dia, aku masih menulis tentang mereka. Mereka anak-anakku yang Allah takdirkan sesaat menjadi bahagian dari tanggung jawabku.

Saat menerima tawaran menjadi bahagian dari mereka, tentu saja dibarengi dengan kekhwatiran yang luar biasa. Bagaimana tak khawatir jika harus menaklukkan banyak hati yang baru saja ingin dikenal. Takut tak bisa menjadi penanggung jawab yang baik bagi mereka, dan takut tak mampu memberikan kasih sayang yang cukup untuk mereka.

Namun kembali berkomitmen. Aku berpikir bahwa tawaran ini cukup indah nan mulia. Aku harus berusaha dan memastikan bahwa diriku bisa. Aku belajar memantaskan diri sebab diri ini bukan siapa-siapa untuk menjadi teladan buat mereka. Aku belajar banyak hal, mulai dari berkata lebih lembut hingga belajar memberi perhatian. Jujur saja hampir seluluruh dunia tau, siapa aku. Aku yang cueknya lumayan, aku yang tak tau berkata lembut, aku yang tak tau berbicara pelan, aku yang jarang menyapa dan jarang tersenyum, kini mulai belajar tentang semuanya.

Allah yang menakdirkan ini tentu saja bukan suatu kebutulan, sebab bagi Allah tak ada yang kebetulan melainkan telah terencana indah dan telah tertulis rapi dalam lauhul mahfuznya 40 ribu tahun sebelum tempat berpijak ini tercipta olehnya.

Aku kemudian mulai meminta yang terbaik pada Allah, bahkan sesekali mengemis padanya. Wahai Allah jadikan jalan ini langkah yang indah dan penuh berkah, jadikan jalan ini adalah yang terbaik lebih dari sekedar kata dan ucapan baik.

Dalam khayal, aku mulai membayangkan bagaimana bahagianya jika kelak dapat menyaksikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang cendikia. Hati ini mulai menari saat membayangkan nama “Amirah” yang amat sederhana mulai tertulis dihati-hati mereka, kemudian hadir dalam do’a-do’a mereka.

Senyuman terindah tak luput kuhamparkan pada mereka, yang kucintai karena Allah, yang kuharapkan menjadi hadiah terindah saat kembali kelak menjumpai kedua orang tuanya. Kemudian tak lepas dari semua itu aku memiliki impian agar bisa menghadiahkan mereka pada masyarakat dan ummat. Yah tentu saja dengan modal akhlakul karimah dan pemahaman ilmu islam yang kokoh.

Kududukkan mereka dalam majlis-majlisku, Kutuntun mereka untuk memahami apa yang kuimpikan darinya dengan berbagai metodehku. kubangunkan mereka dalam keheningan malam untuk bersujud dalam lailnya disepertiga malam terakhir. Kuajak mereka menyebut deretan nama orang yang mereka sayangi. Dan tentu saja akupun tak lupa menghadirkan nama-nama mereka dalam sujud-sujud panjangku dengan berbagai hajatku, kuadukan mereka pada Allah setiap saat. Bukan hanya tentang kenakalan dan bandelnya mereka akan tetapi segala-galanya termasuk tentang kesyukuranku pada Allah sang rabb maha kasih. karena telah dianugerahkan anak-anak lucu, imut, nan unik ini untukku.

Mejadi bahagian dari mereka tentu tak sesederhana yang kubayangkan, sebab kadang ada kondisi yang mengharuskanku menghukum mereka. Dan yang pasti hukuman hanya dilakukan atas nama cinta. Kadang diperhadapkan pada kondisi dimana harus menangis sebelum melihat mereka menangis. Kadang harus menumpahkan air mata karena harus melawan rasa tak tega bercampur rasa khawatir akan tergores luka saat menjalankan hukuman itu. Sebab menghukum dengan cinta harus memastikan tanpa bekas yang bersifat negatif.

Jelas dan bisa dipastikan bahwa kebersamaan dengannya adalah penyatuan antara suka dan duka. Namun bersama mereka adalah keindahan yang tak terlukiskan. Suka dan duka menyatu menjadi sebuah kekuatan melaui cara yang bijak dalam memahami jejak-jejak kita.

Disini, bersama mereka ada banyak tawa, ada banyak candaan. Kadang ada kecewa, dan ada banyak senyuman, mulai dari senyum yang agak dipaksakan hingga senyuman termanis. Kadang ada air mata ada suka dan ada pula duka tentunya.

Yang tak ada adalah benci dan amarah sebab keduanya telah tertampung dan terkendalikan oleh cinta yang tumbuh luar biasa.

Cinta, ia cinta. Siapapun kelak yang ditakdirkan menjadi bahagian dari mereka yang kelak meduduki posisi sederhana ini, jangan pernah lupa hadirkan dan tanamkan cinta. Sebab pondasi utama buat mereka adalah cinta. Kelihatannya sangat sederhana tapi siapapun engkau yang beruntung bersama mereka. Pastikan engkau adalah yang mencintainya karena Allah, sebab tanpa cinta engkau akan kalah.

Dulu akupun sempat berpikir sempit, aku hampir saja mengalah namun kekuatan cinta yang tulus sungguh terbukti ajaibnya, tak ada yang mampu kalahkannya, berbagai model tingkah apapun darinya justru semua menjadi akhir senyuman. Tak bisa dipungkiri jika kadang harus hadir rasa kecewa namun semua hanya bersiafat sesaat. Sebab cinta yang hadir bukan lagi sekedar cinta biasa.

Cinta yang awal kutanam tentu tak sebegitu kokohnya. Namu seiring berputarnya waktu, cinta yang dulu sederhana, cinta yang dulu tak menentu antara ingin hidup atau mati, kini mulai tumbuh mengokohkan dirinya kemudian mampu menampung berbagai suka dan mengalahkan berbagai luka.
Cinta yang tumbuh kokoh karena berbagai siraman indah dan nikmat dari ulah unik mereka.

Berbagai kisah menarik, berbagai cerita indah nan lucu, telah membersamai kami. Kadang berharap tak ada kata perpisahan dengannya, namun kenyataan menyadarkan bahwa mereka hanyalah sebuah titipan.

Ingin menyebut nama dan keunikan mereka satu-persatu. Semoga dapat terealisasi dilain kesempatan.

polah asuh yang salah.

Kalau diperhatikan degan bijak. ada beberapa anak yang sering membuat kita memberinya label tertentu. Atau gelar-gelar khusus ketika bertingkah. padahal kenyataannya kesalahan itu bukan pada anak semata, tapi justru dilatar belakangi oleh kesalahan lingkungan, sering terjadi karena adanya dukungan yang kuat dari orang lain terutama dari pihak keluarga dan nyaris dari orang tuanya sendiri.

Misalkan saja. mungkin dia anak tunggal, atau anak bungsu DLL. Dirumah sering diperlakukan khusus, biar salah tetap dapat pembenaran, tanpa diberi pemahaman. Tidak ada penjelasan bahwa kalau seperti itu kejadiannya berarti kita yang keliru, Dan kita harus minta maaf. Tapi justru meminta kakaknya atau siapalah yang mengalah. Ini adalah salah satu cara pembentukan Yang terhitung sangat keliru. Tidak mengapa membela anak, tidak mengapa menyayangi anak, tapi jangan ajari anak anda menjadi manja, brutal dan cengeng.

Contoh kedua banyak orang tua senang mengasuh anaknya degan cara seperti ini. Anak jatuh misalkan, orang tua datang “kenapa nak? Jatuuuh. Dimana jatuh nak ? Disitu sambil nunjuk tempat jatuhnya. Kemudian sang ibu bilang.”yaudah kita pukul ya. Dipukul-pukullah tempat jatuhnya kemudian dibilang-bilangin, iih bandel ah, jahat, bodoh, atau apalah Kata-Kata yang semisal. Dan Itu dijadikan trik ampuh untuk menenangkan si anak. Akhirnya si anak tumbuh degan kebiasaan buruknya. setiap terkena sesuatu harus mukul dulu, atau ngomel dulu baru puas. Disenggol dikit sama teman tanpa sengaja langsung mukul plus keluar pula berbagai macam bahasa kotornya. Nah kalau anak kayak gini yang salah siapa bu?

Apakah kita masih mau mempertahankan ego kita dalam mendidik mereka yang kita selalu mengatakan sayang padanya ? Apakah kita tidak puas menuduh dan menyalahkan mereka ?

Ketika anak tumbuh dan tak bisa dikendalikan baru bertanya kenapa ? Sudah diberikan segala perhatian tapi masih saja bandel ?

Banyak orng tua saking sayangnya pada anaknya, sampai lupa memberikan pelajaran terpenting dan terbaik untuk masa depan anaknya. Kadang tidak berpikir tentang masa depan si anak. mikirnya yang penting anaknya tenang dulu. Ia itu benar, anak bisa tenang saat itu. Tapi coba pikirkan apa imbasbnya dikemudian hari setelah kelak tumbuh menjadi dewasa.

Bunda maukah kita melihat anak-anak kita dengan model seperti ini ? Dengan berbagai label dan berbagai panggilan konyol yang sebenarnya diakibatkan oleh kejahilan kita?

Bunda Mari mulai didik anak kita dengan ilmu. cinta dan kasih sayang tidak cukup sebagai bekal dalam mendidik.

Bunda, jangan berhenti mencari ilmu sebab masa depan anak, Ada ditangan kita.

Cinta Tampa ilmu kadang salah kaprah.

Berikan cinta. barengi ilmu. Agar cinta kita tidak salah kaprah.